Kamis, 11 September 2008
Eksistensialisme Komik
Yang akan dibahas adalah eksistensi superhero itu sendiri dalam suatu masyarakat yang normal, maksudnya dalam masyarakat yang tidak punya kekuatan superhero sama sekali. Mengangkat gedung, menembak sinat laser dari matanya, apalagi nemplok di tembok. Lalu apakah superhero itu dibutuhkan? Maksudku dalam segala macam bentuk. Entah dalam wujud komik maupun hiperrealitasnya di dunia manusia sekarang ini.
Dalam komik, Lex Luthor sering berkata kepada Superman: “ Kalau aku tidak ada, maka kau pun tidak ada”. Maksudnya adalah saat tidak ada super Villain seperti Luthor, maka eksistensi Superman sebagai Superhero tidak bisa diakui. Apakah lalu saat Luthor tidak ada, Superman yang menjadi Villain, dan manusia biasa seperti kita menjadi superheronya? Terlepas dari kisah masa lalu Superman yang anak baik-baik.
Lalu kenapa saat Luthor yang notabene manusia biasa yang terkena kanker Krypton tidak dibunuh saja. Toh dia orang jahat yang melanggar hukum. Superman dan Justice League berargumen bahwa saat mereka membunuh orang seperti Luthor, maka mereka tidak berbeda dengan Luthor. Masuk akal juga.
Konsep cerita di atas terjadi dalam komik Elseworld karya Paul Dini dan Alex Ross yang super populer, Kingdom Come. Graphic novel ini bercerita tentang munculnya sekelompok manusia baru yang disebut Metahuman. Cerita bermula saat Joker
membantai seluruh penghuni dengan asbak, termasuk Louis Lane, istri Clark Kent/Superman. Superman mengajukan tuntutan kepada Joker di pengadilan. Namun pada saat pengadilan berlangsung, seorang Metahuman bernama Magog nongol dan melempar tombak hingga menembus jantung Joker hingga tewas.
Dengan rasa kemanusiaan yang tinggi Superman bertarung dengan Magog karena membunuh. Namun yang terjadi adalah masyarakat lebih memilih cara yang dilakukan Magog dalam mengatasi Villain seperti Joker. Masyarakat menilai bahwa golongan superhero seperti Superman terlalu kolot dalam membasmi kejahatan, karena itu Villain terus bermunculan.
Nah inilah yang menjadi konsep eksistensi. Apakah Superman tidak membunuh villain karena ingin eksistensinya tetap ada? Atau dia memang benar-benar naif? Ada dua konsep yang berlawanan jika membicarakan eksistensi. Menurut Aristoteles, essensi menghasilkan eksistensi. Sedangkan merujuk pada pemikiran kaum eksistensialis seperti
Jaspers dan Nietzche, eksistensi menghasilkan essensi. Mengenai konsep superhero itu sendiri bisa dianalisis dengan kedua teori ini.
Essensi menghasilkan eksistensi, maksudnya adalah bahwa saat seseorang diakui oleh dunia adalah pada saat ia menemukan essensi ke-Ada-annya di dunia. Misalnya saya ambil contoh superhero Elongated Man. Awalnya ia hanya manusia biasa, namun setelah meminum ekstrak Gingold, badannya bisa melar dan menjadi salah satu anggota JLA. Dengan begini bisa dianalogikan bahwa seseorang harus memiliki sesuatu untuk dapat berguna. Namun saat Elongated Man tidak meminum ekstrak Gingold? Maka ia bukanlah siapa-siapa. Terlepas dari bahwa Elongated Man sebenarnya seorang Meta Human walaupun ia tidak mengetahuinya.
Lalu konsep yang kedua adalah bahwa eksistensi menghasilkan essensi. Ada istilah Born to Be Hero, istilah tersebut merujuk pada konsep kaum Posmodern ini. Dalam Will to Power, Nietzche sering menggunakan kata Ubermensch, yaitu bahasa Jerman dari Superman atau Overman. Oleh para filsuf-filsuf modern, ubermensch merujuk pada diktator-diktator era World War seperti Hitler atau Mussolini. Tapi bagaimana jika Ubermensch adalah Superman? Superman dilahirkan sebagai manusia biasa, itu kalau ia memang planet Krypton belum hancur. Namun saat planet krypton hancur dan Kal-L dikirim ke Bumi, Matahari kuning memberinya kekuatan yang tiada tara. Kekuatan mengangkat berat setara seperempat bumi, tembakan laser dari mata, tiupan maut dan lain sebagainya. Inilah yang dianalogikan sebagai Born to be Hero, tanpa susah payah, ia bisa menjadi seorang superhero. Atau dalam kehidupan manusia sehari-hari, orang yang memiliki jutaan bakat sejak ia lahir. Dalam Superman/Batman #3, Batman pernah mengatakan “Benar-benar kombinasi yang aneh. Dalam beberapa hal, Clark adalah yang paling manusiawi diantara yang lain. Lalu saat ia menembakan api dari angkasa, sulit untuk tidak mengatakan dia adalah seorang dewa. Betapa beruntungnya kita, dia tidak menyadarinya.”. Lihat saja nama Kryptoniannya, Kal-El. Dalam bahasa Ibrani, El (קל) berarti Tuhan.
Lalu mana yang lebih baik, Born to hero, atau struggle to be hero? Beberapa berpendapat lebih baik dilahirkan dengan sejuta bakat daripada menjadi manusia biasa, namun ada juga yang berpendapat lebih baik menjadi manusia biasa tanpa terkena konsekuensi yang ada. Kedua hal tersebut bukanlah pilihan, namun hanyalah sekedar tahu dan pernah merasakan, karena pada dasarnya bahkan saat manusia diharuskan menagis darah untuk sebuah keinginan, belum tentu ia dapat mewujudkan hal tersebut.
Batman mengatakan, lebih baik memandang sesuatu dari sisi buruknya saja, jadi saat sisi buruk itu terjadi, kita tidak akan dikecewakan olehnya.
Keep Fighting!!!!
by Gill
Hedonisme Wacana
berbicara jiwa tetntu kita tak bisa melepaskan rasio atau akal sebagai inti dari jiwa tersebut. dalam mencapai kesempurnaan jiwa amaka akalpun arus berkembang dengan mengembangkan wacana atau pengetahuan. Dalam wacan pun tidak ada sebuah kepuasan ataupun titik tunggal karena dalam proses pewacanaan adalah proses dimana kita merangkum pandangan akan benda dan mempertentangkanya aleh karena itu tidak ada titik henti. lalu apa yang terjadi bila manusia menetapkan titik pemikiranya dan mendewakan sebuah teori masa lalu tanpa terus mencari argumen guna menenangkan pergolakan dalam wacan itu adalah sebuah hedonisme wacana. kenapa saya menyebutnya sebagai hedonisme waca karen kita hanya melihat salah satu wacana itu sebagai kebenaran. inilah kemunafikan kita dimana kita tidak lagi mencari tetapi hanya menerima dan menganggapnya hanya sebagai "Barang Jadi" tanpa menelaah proses terbentuknya. inilah hedonisme masakini dimana segala sesuatu hanya dilihat dan di maknai sebagai sebuah barang jadi. dalam mengembangkan pengetahuan atau wacana kita tidak ada sebuah titik kepuasan dan memuaskan karena kita tetap harus merasakan sakitnya mencari sebuah kebenaran dan kesenangan ketika ada sebuah pembuktian dari pengetahuan tersebut.
By. ::Mbah:: Rendra Cahya Scarface
Simbol, Pabrik Mimpi-mimpi
I am illegal alien,
I am English man in New York
(Sting, 1996)
Identitas, siapa yang gak punya? Sejauh mata memandang ketika kita berada di masyarakat, selalu banyak terdapat simbol (identitas) yang melekat baik di tubuh, bangunan, kendaraan, HP sampai gaya rambut dan gaya bercara serta gaya pergaulan (siapa teman dan siapa pacar). Identitas berupa symbol pada dasarnya sudah menjadi kodrat manusia, karena selain manusia di kenal sebagai homo symbolicum (manusia yang bersimbol), juga simbol itu sendiri juga merupakan alat dan media untuk melihat kenyataan atau mengapresiasikan kesadarannya sendiri. Sejak jaman purba, kita mengenal manusia telah mengapresiasikan lingkungannya melalui tari-tarian yang menyerupai alam (tarian binatang, tarian minta hujan dll) sampai dengan bentuk totem (simbol-simbol ritual) baik yang melekat di gua-gua sampai dengan tubuh manusia (tattoo). Itu semua di lakukan oleh manusia purba sebagai usaha berkomunikasi dan mengungkapkan apresesianya terhadap lingkungan dan alam disekitarnya. Oleh karena itu, manusia purba di daerah pada pasir milsanya lebih kental mengagunggkan simbol matahari sebagai dewanya karena sehari-hari mereka selalu melihat dan tergantung dengan keberadaan matahari di lingkungan hidupnya. Demikian halnya dengan manusia purba yang ada di hutan, mereka mengagunggkan keberadaan binatang-binatang buas (macan, ular dll) karena sehari-hari mereka selalu di hadapi oleh ancaman binatang buas, sehingga usaha mengkomunikasikan dan mendamaikan lingkungannya tersebut dengan menciptakan simbol-simbol yang dianggap dapat menjinakkan tantangan lingkungan yang mereka hadapi.
Sejarah mengenai manusia yang bersimbol masih terus berlangsung sampai saat ini, namun jika kita coba melacak motivasi dari manusia yang bersimbol tersebut memiliki sejarah dan lingkungan yang berbeda-beda. Jika pada zaman Singosari laki-laki yang tampan adalah laki-laki yang perkasa dengan segala gelar kerajaan yang melat pada statusnya, kemudia pada zaman Mataram Islam wanita cantik itu adalah bagaikan bulan Purnama. Di Mesir para budak itu di tandai dengan para pria yang beranting, kemudiaan pada zaman Romawi Barat, laki-laki tampan adalah yang kulitnya coklat karena dianggap selalu berada di perjalanan dari negeri ke negeri untuk berperang, pada tahun 1960-an wanita blonde identik sebagai wanita yang bodoh (politik rasis) seterusnya dan pada zaman sekarang laki-laki ganteng dan wanita cantik adalah berwarna kulit putih karena di iklan TV, sintetron, film dan media lainnya selalu menokohkan laki-laki dan wanita berkulit putih, dan seterusnya di era ini pun akhinya segala sesuatunya di identikkan dengan segi fisik semata termasuk sorban dan jenggot yang mengidentikkan sebagai seorang mualim (sok dekat dengan Tuhan, Massya Allah......). Gambaran manusia bersimbol tersebut tanpa kita sadari berada juga dalam pergaulan kita sehari-hari, mulai dari baju, celana, tas, HP, gaya rambut, yang lebih tragis lagi adalah permasalahan teman dan pacar pun kita mengidentifikasinya dari segi simbol. Misalnya standar cowok atau cewek yang kita sukai adalah dengan gaya rambut, mobil, wajah dan bla.. blaa... bla.... Karena secara tidak sadar pula hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam suatu ikatan tersebut sudah di kontruksikan secara sosial, seperti yang dikontruksikan di media massa TV, majalah dan lain sebagainya.
By the Way, what's wrong with symbol? Menurut De Saussure, simbol itu terbagi dalah dua unsur yakni penanda dan petanda (signifie) adalah penanda (signifer). Penanda atau bisa juga kita sembut tanda adalah sebuah bentuk representasi fisik atau visual dari suatu kenyataan. Misalnya kata putih adalah penanda yang merujuk pada kenyataan pada segala suatu yang berwarna putih. Sedangkan petanda adalah konsep atau makna yang terdapat di balik bentuk fisik pada petanda, jika ada kata putih maka petandanya adalah suatu warna yang berlawanan dengan warna hitam dan lain sebaganya. Jadi huruf p-u-t-i-h adalah sebuah bentuk dari penanda untuk menjelaskan atau mewakili warna putih itu sendiri, sedang sebagai petandanya adalah konsep atau makna yang terdapat dari petanda itu sendiri, jadi tanda atau simbol itu seperti dua sisi mata uang, yang satu adalah bentuk fisik atau visualnya, sedangkan sisi dibaliknya adalah konsep atau makna yang melekat.
Dalam kerangka De Saussure, penanda itu bersifat abriter (semau-maunya), jadi jika ada kata putih yang mewakili sebuah kenyataan warna putih adalah bisa bersifat semena-mena. Nah ini lah yang kemudiaan pada zaman sekarang akan menjadi sangat kerasa, jika ada simbol putih itu dianggap baik atau cantik adalah sebuah kesemena-menaan juga, karena hal tersebut diciptakan dan di desaign oleh pihak tertentu. Pada budaya modern ini, semua simbol yang ada hampir bersifat ikonis, tapi apkah ikonis itu??? Ikon adalah sebuah tanda yang bersifat keserupaan, misalnya merah itu berani, badan six pack adalah macho, rambut mowhak adalah anak punk, hita itu seram, pink itu imut dan lain sebagainya. Ikon selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman, kalo tahun 1960-an anak nakal itu berambut gondorng dan nomaden (hipis), kalo sekarang itu anak nakal pake baju hitam dan ada tengkoraknya (metal). Kalo nakalnya abad 16 itu adalah para seniman musik dan rupa yang atheis (mengambil inspirasi dari sisi gelap manusia). Ikon inilah yang diproduksi oleh media massa yang kemudian kita konsumsi hari ini berupa kaos dan lain-lain. Coba aja liat, apa bedanya kita sama majalah?? Baju, celana sampai potongan rambut kita gak lepas dari pengaruh majalah, TV dll, padalah semuanya itu adalah rekaan semata. Sialnya ada simbol yang hasil curian, seperti desain grafis dengan motif meniru gaya mural di Mesir dan suku Maya. Sekian...... keep on move....!!!!
*Disampaikan dalam Pekan Penerimaan Anggota Baru
GmnI Kom FIA-Unibraw
18 September 2006
**Penulis adalah
- Alumni GMNI UMM
- Kurator Foto di Insomnium
- Kurotar Seni Rupa di RSS
- Sutradara Film pendek “God in The Bottle (2002)”
- Produser Film Pendek “Tuhan Telah di Pengaruhi AA Gym (2005)”
- Vokalis Band “Brother Karamazov”
Matinya Akal dan Diri; Gue Banget
Ilustrasi di atas bisa jadi merupakan hal lumrah bagi kita, sering kita temui di sekitar, dan tidak usah jauh-jauh, mungkin juga kita sendiri yang melakukannya. Di mana apa yang lagi trend dari negeri asing merupakan hal mewah, hal yang menakjubkan, membuat kita takjub untuk kemudian menjadikan kita bersegera diri menirunya.
Tidakkah kita menjadi miris, ketika seorang berperawakan Asia dengan hidung pesek, kulit kecoklatan, menggambarkan diri bagai sosok yang ada pada sebuah Band ternama yang berisi orang Anglosaxon, dan mengatakan dengan bangga "Ini gue banget, nih.." Apanya yang gue banget?
Bahwa hal yang demikian bagi kita sebagai orang muda merupakan sebuah kewajaran, meniru dan menjadikan apa yang bukan milik kita menjadi sebuah identitas diri. Namun tidakkah kita sedikit ingin lebih tahu, apa sih sebenranya yang ingin kita tiru? Konsep-konsep apa yang sebenarnya di balik yang kita tiru tersebut, sehingga kita menjadi latah untuk menirunya? Apakah jika kita telah mengetahui lebih dalam dan mengerti konsep-konsep di balik semua apa yang kita tiru tersebut, seterusnya masihkah kita akan memakainya sebagai sebuah identitas diri? Dan tidakkah kita bisa berbuat dan membuat sesuatu bagi identitas kita sendiri, sebuah identitas yang tidak meniru?
Apa komentarmu?
by anonymous
Dimanakah gerangan kemerdekaan ?
“suatu pagi aku berjumpa Simon Bolivar*”
“di Madrid depan gerbang resimen ke-5”
“kusapa dia,”bapa kaukah itu atau bukan atau sipakah kau sebenarnya?”
“sambil menatap barak-barak dan pegunungan ia berkata”
“aku bangun tiap satu abad tatkala rakyat bangkit”
By:Pablo Neruda
*Simon Bolivar adalah pahlawan kemerdekaan Amerika Latin
Sudah 61 tahun proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, dan perihal itu adalah jembatan emas menuju masyarakat adil dan makmur yang menjadi impian bangsa kita. Akan tetapi banyak yang terlanjur keenakan di jembatan itu, lupa bahwasanya tujuan utama dari kemerdekaan adalah masyarakat baru tersebut.
Merdeka artinya bebas dari segala keterkungkungan penjara penindasan selain itu dengan merdeka, manusia baru akan lahir dari proses dehumanisasi yang dijalankan oleh penindasan. Tuntutan budi nurani manusia pada hakikatnya manusia adalah makhluk individu dan makhluk social atau dengan arti lain suatu manusia yang harus mampu menyeimbangkan antara kepentingan individu dan kepentingan umum sehingga ia menjadi manusia merdeka sepenuhnya.
Persatuan dalam mencapai kemerdekaan tak kalah pentingnya saat ini. Sejarah telah mencatat bahwa perlawanan terhadap penjajahan tanpa persatuan yang dicapai hanyalah kegagalan demi kegagalan dan keberhasilan mengusir penjajahan itu mencapai titik puncak pada 17 Agustus 1945. Namun apakah penjajahan itu hanya berhenti sampai disitu saja, rasanya naïf jika kita mengatakan hal itu, ia selalu berganti wajah. Lihat!!! kawan-kawan di Lebanon & Palestina kedaulatan nasionalnya diinjak-injak oleh sepatu lars militer Israel dan AS belum beberapa negara tetangganya yang siap-siap dibidik oleh moncong senjata dari kekuatan penjajah abad 21 tersebut. Sementara di belahan dunia yang lain ekspansi lewat jalur ekonomi sedang berlangsung, menyebabkan negara yang terkena ekspansi ekonomi imperialis harus menjadi budak di negeri sendiri sementara itu para agen imperialis sibuk mengobok-obok peraturan agar mereka si penjajah datang dengan janji-janji palsu tentang pembangunan ekonomi. Di negara kita atau penjuru dunia ini, buruh di pabrik dipaksa bekerja dengan upah rendah, petani di sawah mengalami penyerobotan tanah oleh “kantong-kantong uang”, anak-anak dipaksa putus sekolah, penggangguran yang terus-terusan bertambah dan masih banyak lagi sehingga tak bisa disebutkan satu persatu dengan rinci dan sistematis
Benar penjajahan telah menyebabkan manusia diperlakukan layaknya robot bernyawa. Akan tetapi apakah para penjajah itu leluasa menindas ?. Tidak!!! Coba simak penggalan kalimat di bawah ini.
…Tiap-tiap mahkluk, tiap-tiap umat, tiap-tiap bangsa tidak boleh tidak, pasti akhirnya bangun, pasti akhirnya menggerakkan tenaganya. Jikalau ia sudah terlalu-terlalu merasakan celaka diri yang teraniaya oleh sesuatu daya angkara murka. Begitulah saya pernah menulis, "Jangan lagi manusia, jangan lagi bangsa, walau cacingpun tentu bergerak berkeluget-keluget kalau merasakan sakit !". Memang-memang pergerakan lahir pada hakikatnya dilahirkan oleh tenaga-tenaga pergaulan hidup itu membikin ia bergerak. Bukan fajar menyingsing ayam jantan berkokok, tetapi ayam jantan berkokok karena fajar menyingsing……(BUNG KARNO).
Kawan-kawan di Amerika Latin (Hugo Chavez & Evo Morales) sudah menunjukkan perlawanannya. Mereka siap membendung penjajahan dengan program nasionalisasi perusahaan asing. Di hutan Lacandon, dataran Chiapas, Mexico Tenggara, para gerilyawan bertopeng Zapatista bergotong royong mengusir penjajahan yang terang-terangan menyerobot tanah adat milik rakyat setempat. Arus revolusi tengah menyalakan mesin kemarahan rakyat yang tidak bisa menderita terus-terusan akibat penjajahan.
Para pahlawan sudah mengorbankan darah, air mata dan nyawa demi sebuah kemerdekaan untuk rakyat yang dicintainya. Haruskah kita mengkhianati perjuanagan mereka dengan menjadi budak dari system imperialisme ??? Kemerdekaan sejati masih belum terwujud, kita sebagai generasi muda yang diharapkan menjadi tulang punggung di masa yang akan datang masih asyik masyuk dengan segala ketimpangan yang jelas-jelas kasat mata dewasa ini.
Seorang intelektual harus bisa menjadi seorang yang mengerti dan tanggap terhadap segala permasalahan yang melanda bangsanya dan ia rela memberikan apa yang ia punya demi terciptanya masyarakat adil dan makmur.
Revolusi adalah suatu perubahan yang dilakukan dengan cepat dan mendasar didasari oleh rasa muak akan kebusukan system yang lama. Ia memiliki sifat untuk mendobrak dan membangun. Revolusi dalam tatanan masyarakat yang pincang adalah “hantu” yang menakutkan bagi si penjajah. Akan tetapi ibarat angin segar yang mencambuk semangat dari orang-orang yang dirampas haknya.
Maka dari itu kawan-kawan ayolah !!!! segera bergerak….Biar derap langkahmu menggema meretakkan tembok penindasan dan menghancurkannya menjadi debu. Ayo bangunkanlah semangatmu jangan biarkan ia tertidur lelap dalam buaian janji-janji kosong penindas, jiwa mudamu itu harus diasah laksana kapak yang akan digunakan untuk menumbangkannya.
MERDEKA !!!
Written By Kunto