Kamis, 11 September 2008

Dimanakah gerangan kemerdekaan ?


suatu pagi aku berjumpa Simon Bolivar*”

“di Madrid depan gerbang resimen ke-5”

kusapa dia,”bapa kaukah itu atau bukan atau sipakah kau sebenarnya?”

“sambil menatap barak-barak dan pegunungan ia berkata”

“aku bangun tiap satu abad tatkala rakyat bangkit”

By:Pablo Neruda

*Simon Bolivar adalah pahlawan kemerdekaan Amerika Latin


Sudah 61 tahun proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, dan perihal itu adalah jembatan emas menuju masyarakat adil dan makmur yang menjadi impian bangsa kita. Akan tetapi banyak yang terlanjur keenakan di jembatan itu, lupa bahwasanya tujuan utama dari kemerdekaan adalah masyarakat baru tersebut.

Merdeka artinya bebas dari segala keterkungkungan penjara penindasan selain itu dengan merdeka, manusia baru akan lahir dari proses dehumanisasi yang dijalankan oleh penindasan. Tuntutan budi nurani manusia pada hakikatnya manusia adalah makhluk individu dan makhluk social atau dengan arti lain suatu manusia yang harus mampu menyeimbangkan antara kepentingan individu dan kepentingan umum sehingga ia menjadi manusia merdeka sepenuhnya.

Persatuan dalam mencapai kemerdekaan tak kalah pentingnya saat ini. Sejarah telah mencatat bahwa perlawanan terhadap penjajahan tanpa persatuan yang dicapai hanyalah kegagalan demi kegagalan dan keberhasilan mengusir penjajahan itu mencapai titik puncak pada 17 Agustus 1945. Namun apakah penjajahan itu hanya berhenti sampai disitu saja, rasanya naïf jika kita mengatakan hal itu, ia selalu berganti wajah. Lihat!!! kawan-kawan di Lebanon & Palestina kedaulatan nasionalnya diinjak-injak oleh sepatu lars militer Israel dan AS belum beberapa negara tetangganya yang siap-siap dibidik oleh moncong senjata dari kekuatan penjajah abad 21 tersebut. Sementara di belahan dunia yang lain ekspansi lewat jalur ekonomi sedang berlangsung, menyebabkan negara yang terkena ekspansi ekonomi imperialis harus menjadi budak di negeri sendiri sementara itu para agen imperialis sibuk mengobok-obok peraturan agar mereka si penjajah datang dengan janji-janji palsu tentang pembangunan ekonomi. Di negara kita atau penjuru dunia ini, buruh di pabrik dipaksa bekerja dengan upah rendah, petani di sawah mengalami penyerobotan tanah oleh “kantong-kantong uang”, anak-anak dipaksa putus sekolah, penggangguran yang terus-terusan bertambah dan masih banyak lagi sehingga tak bisa disebutkan satu persatu dengan rinci dan sistematis

Benar penjajahan telah menyebabkan manusia diperlakukan layaknya robot bernyawa. Akan tetapi apakah para penjajah itu leluasa menindas ?. Tidak!!! Coba simak penggalan kalimat di bawah ini.

Tiap-tiap mahkluk, tiap-tiap umat, tiap-tiap bangsa tidak boleh tidak, pasti akhirnya bangun, pasti akhirnya menggerakkan tenaganya. Jikalau ia sudah terlalu-terlalu merasakan celaka diri yang teraniaya oleh sesuatu daya angkara murka. Begitulah saya pernah menulis, "Jangan lagi manusia, jangan lagi bangsa, walau cacingpun tentu bergerak berkeluget-keluget kalau merasakan sakit !". Memang-memang pergerakan lahir pada hakikatnya dilahirkan oleh tenaga-tenaga pergaulan hidup itu membikin ia bergerak. Bukan fajar menyingsing ayam jantan berkokok, tetapi ayam jantan berkokok karena fajar menyingsing……(BUNG KARNO).

Kawan-kawan di Amerika Latin (Hugo Chavez & Evo Morales) sudah menunjukkan perlawanannya. Mereka siap membendung penjajahan dengan program nasionalisasi perusahaan asing. Di hutan Lacandon, dataran Chiapas, Mexico Tenggara, para gerilyawan bertopeng Zapatista bergotong royong mengusir penjajahan yang terang-terangan menyerobot tanah adat milik rakyat setempat. Arus revolusi tengah menyalakan mesin kemarahan rakyat yang tidak bisa menderita terus-terusan akibat penjajahan.

Para pahlawan sudah mengorbankan darah, air mata dan nyawa demi sebuah kemerdekaan untuk rakyat yang dicintainya. Haruskah kita mengkhianati perjuanagan mereka dengan menjadi budak dari system imperialisme ??? Kemerdekaan sejati masih belum terwujud, kita sebagai generasi muda yang diharapkan menjadi tulang punggung di masa yang akan datang masih asyik masyuk dengan segala ketimpangan yang jelas-jelas kasat mata dewasa ini.

Seorang intelektual harus bisa menjadi seorang yang mengerti dan tanggap terhadap segala permasalahan yang melanda bangsanya dan ia rela memberikan apa yang ia punya demi terciptanya masyarakat adil dan makmur.

Revolusi adalah suatu perubahan yang dilakukan dengan cepat dan mendasar didasari oleh rasa muak akan kebusukan system yang lama. Ia memiliki sifat untuk mendobrak dan membangun. Revolusi dalam tatanan masyarakat yang pincang adalah “hantu” yang menakutkan bagi si penjajah. Akan tetapi ibarat angin segar yang mencambuk semangat dari orang-orang yang dirampas haknya.

Maka dari itu kawan-kawan ayolah !!!! segera bergerak….Biar derap langkahmu menggema meretakkan tembok penindasan dan menghancurkannya menjadi debu. Ayo bangunkanlah semangatmu jangan biarkan ia tertidur lelap dalam buaian janji-janji kosong penindas, jiwa mudamu itu harus diasah laksana kapak yang akan digunakan untuk menumbangkannya.



MERDEKA !!!




Written By Kunto


Tidak ada komentar: