I am alien
I am illegal alien,
I am English man in New York
(Sting, 1996)
Identitas, siapa yang gak punya? Sejauh mata memandang ketika kita berada di masyarakat, selalu banyak terdapat simbol (identitas) yang melekat baik di tubuh, bangunan, kendaraan, HP sampai gaya rambut dan gaya bercara serta gaya pergaulan (siapa teman dan siapa pacar). Identitas berupa symbol pada dasarnya sudah menjadi kodrat manusia, karena selain manusia di kenal sebagai homo symbolicum (manusia yang bersimbol), juga simbol itu sendiri juga merupakan alat dan media untuk melihat kenyataan atau mengapresiasikan kesadarannya sendiri. Sejak jaman purba, kita mengenal manusia telah mengapresiasikan lingkungannya melalui tari-tarian yang menyerupai alam (tarian binatang, tarian minta hujan dll) sampai dengan bentuk totem (simbol-simbol ritual) baik yang melekat di gua-gua sampai dengan tubuh manusia (tattoo). Itu semua di lakukan oleh manusia purba sebagai usaha berkomunikasi dan mengungkapkan apresesianya terhadap lingkungan dan alam disekitarnya. Oleh karena itu, manusia purba di daerah pada pasir milsanya lebih kental mengagunggkan simbol matahari sebagai dewanya karena sehari-hari mereka selalu melihat dan tergantung dengan keberadaan matahari di lingkungan hidupnya. Demikian halnya dengan manusia purba yang ada di hutan, mereka mengagunggkan keberadaan binatang-binatang buas (macan, ular dll) karena sehari-hari mereka selalu di hadapi oleh ancaman binatang buas, sehingga usaha mengkomunikasikan dan mendamaikan lingkungannya tersebut dengan menciptakan simbol-simbol yang dianggap dapat menjinakkan tantangan lingkungan yang mereka hadapi.
Sejarah mengenai manusia yang bersimbol masih terus berlangsung sampai saat ini, namun jika kita coba melacak motivasi dari manusia yang bersimbol tersebut memiliki sejarah dan lingkungan yang berbeda-beda. Jika pada zaman Singosari laki-laki yang tampan adalah laki-laki yang perkasa dengan segala gelar kerajaan yang melat pada statusnya, kemudia pada zaman Mataram Islam wanita cantik itu adalah bagaikan bulan Purnama. Di Mesir para budak itu di tandai dengan para pria yang beranting, kemudiaan pada zaman Romawi Barat, laki-laki tampan adalah yang kulitnya coklat karena dianggap selalu berada di perjalanan dari negeri ke negeri untuk berperang, pada tahun 1960-an wanita blonde identik sebagai wanita yang bodoh (politik rasis) seterusnya dan pada zaman sekarang laki-laki ganteng dan wanita cantik adalah berwarna kulit putih karena di iklan TV, sintetron, film dan media lainnya selalu menokohkan laki-laki dan wanita berkulit putih, dan seterusnya di era ini pun akhinya segala sesuatunya di identikkan dengan segi fisik semata termasuk sorban dan jenggot yang mengidentikkan sebagai seorang mualim (sok dekat dengan Tuhan, Massya Allah......). Gambaran manusia bersimbol tersebut tanpa kita sadari berada juga dalam pergaulan kita sehari-hari, mulai dari baju, celana, tas, HP, gaya rambut, yang lebih tragis lagi adalah permasalahan teman dan pacar pun kita mengidentifikasinya dari segi simbol. Misalnya standar cowok atau cewek yang kita sukai adalah dengan gaya rambut, mobil, wajah dan bla.. blaa... bla.... Karena secara tidak sadar pula hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam suatu ikatan tersebut sudah di kontruksikan secara sosial, seperti yang dikontruksikan di media massa TV, majalah dan lain sebagainya.
By the Way, what's wrong with symbol? Menurut De Saussure, simbol itu terbagi dalah dua unsur yakni penanda dan petanda (signifie) adalah penanda (signifer). Penanda atau bisa juga kita sembut tanda adalah sebuah bentuk representasi fisik atau visual dari suatu kenyataan. Misalnya kata putih adalah penanda yang merujuk pada kenyataan pada segala suatu yang berwarna putih. Sedangkan petanda adalah konsep atau makna yang terdapat di balik bentuk fisik pada petanda, jika ada kata putih maka petandanya adalah suatu warna yang berlawanan dengan warna hitam dan lain sebaganya. Jadi huruf p-u-t-i-h adalah sebuah bentuk dari penanda untuk menjelaskan atau mewakili warna putih itu sendiri, sedang sebagai petandanya adalah konsep atau makna yang terdapat dari petanda itu sendiri, jadi tanda atau simbol itu seperti dua sisi mata uang, yang satu adalah bentuk fisik atau visualnya, sedangkan sisi dibaliknya adalah konsep atau makna yang melekat.
Dalam kerangka De Saussure, penanda itu bersifat abriter (semau-maunya), jadi jika ada kata putih yang mewakili sebuah kenyataan warna putih adalah bisa bersifat semena-mena. Nah ini lah yang kemudiaan pada zaman sekarang akan menjadi sangat kerasa, jika ada simbol putih itu dianggap baik atau cantik adalah sebuah kesemena-menaan juga, karena hal tersebut diciptakan dan di desaign oleh pihak tertentu. Pada budaya modern ini, semua simbol yang ada hampir bersifat ikonis, tapi apkah ikonis itu??? Ikon adalah sebuah tanda yang bersifat keserupaan, misalnya merah itu berani, badan six pack adalah macho, rambut mowhak adalah anak punk, hita itu seram, pink itu imut dan lain sebagainya. Ikon selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman, kalo tahun 1960-an anak nakal itu berambut gondorng dan nomaden (hipis), kalo sekarang itu anak nakal pake baju hitam dan ada tengkoraknya (metal). Kalo nakalnya abad 16 itu adalah para seniman musik dan rupa yang atheis (mengambil inspirasi dari sisi gelap manusia). Ikon inilah yang diproduksi oleh media massa yang kemudian kita konsumsi hari ini berupa kaos dan lain-lain. Coba aja liat, apa bedanya kita sama majalah?? Baju, celana sampai potongan rambut kita gak lepas dari pengaruh majalah, TV dll, padalah semuanya itu adalah rekaan semata. Sialnya ada simbol yang hasil curian, seperti desain grafis dengan motif meniru gaya mural di Mesir dan suku Maya. Sekian...... keep on move....!!!!
*Disampaikan dalam Pekan Penerimaan Anggota Baru
GmnI Kom FIA-Unibraw
18 September 2006
**Penulis adalah
- Alumni GMNI UMM
- Kurator Foto di Insomnium
- Kurotar Seni Rupa di RSS
- Sutradara Film pendek “God in The Bottle (2002)”
- Produser Film Pendek “Tuhan Telah di Pengaruhi AA Gym (2005)”
- Vokalis Band “Brother Karamazov”
Kamis, 11 September 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar